Minggu, 11 Desember 2011

Arsitektur Di Indonesia (1950an-1990): telaah historis singkat Oleh: Iwan Sudrajat (Part 2 Politik Yang Ber-Arsitektur atau Arsitektur Yang Dipolitisasi?)


“ Kalo betah baca sampe part 2 biasanya iseng nih…karena akan ngebahas mengenai pengaruh Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno dalam ber-Arsitektur. ”(A.R.B)

Sejak tawal tahun 1960, literature Barat mulai masuk ke dunia pendidikan arsitektur di Indonesia. Karya-karya dan pemikiran-pemikiran para arsitek terkemuka seperti Walter Gropius, Frank Lloyd Wright, dan Le Corbusier menjadi referensi normative dalam diskusi di kelas dan latihan di studio, sehingga karakter pendidikannya menjadi lebih akademis. Iklim politik pada saat itu sangat berpengaruh terhadap penerimaan masyarakat terhadap teori dan konsep arsitektur modern, karena pada masa “Demokrasi Terpimpin” (1957-1965) di bawah presiden Soekarno , “modernitas” diberikan oleh kepentingan simbolis yang merujuk pada persatuan dan kekuatan nasional.
Soekarno mengeyam pendidikan di ITB (1921-1925) dan lulus sebagai insinyur sipil. Ia berpraktek selama satu tahun sebelum menjadi seorang politikus professional dan telah berhasil mempengaruhi secara mendasar karakter arsitektur yang diproduksi pada masa memegang kekuasaan. Kecenderungannya pada sesuatu yang modern , revolusioner, dan heroik dalam arsitektur telah membawanya pada program pembangunan besar-besaran untuk ibukota Jakarta, yang ketika itu telah dihuni oleh 3 juta penduduk. Ia berharap untuk untuk mengubah citra Jakarta sebagai pusat pemerintahan colonial menjadi ibukota sebuah Negara yang merdeka dan berdaulat, serta sebagai kebanggaan bangsa dan pertanda lahirnya kekuatan baru di dunia.
Di bawah pemerintahan rezim Soekarno, arsitektur modern di Indonesia memiliki kepentingan politik yang tidak pernah diperoleh sebelumnya. Di dalam kerangka ”pembangunan bangsa” (“nation building”), suatu awal yang mencengangkan dimulai pada akhir 1950-an, yaitu pembongkaran bangunan-bangunan lama, pendirian bangunan-bangunan baru, pelebaran jalan, dan pembangunan jalan-jalan bebas hambatan yang baru. Pencakar langit dan teknologi bangunan modern seperti air- conditioning, elevator, dan escalator mulai diperkenalkan di negeri ini untuk pertama kalinya, dan sejak itu. Garis langit (skyline) Jakarta berubah secara dramatis. Pada tahun-tahun berikutnya sekitar tujuh puluh proyek pembangunan fisik skala besar dan kecil direncanakan dan diselesaikan, sebagian besar didanai oleh bantuan dari luar negeri dan pampasan perang dari jepang.
Proyek yang paling menonjol di antaranya adalah (Jakarta) :
  • Hotel Indonesia : Hotel internasional pertama,14 lantai memiliki 423 kamar, dibangun untuk mengembangkan dan menarik perhatian industri pariwisata luar negeri agar dapat memperbaiki posisi nilai tukar mata uang Indonesia. Awal pembangunan Januari 1959 dan diresmikan pertengahan 1962 dalam rangka pembukaan Asian Games IV. Perancang: Sorensen, Arsitek dari Denmark
  • Pertokoan Sarinah : Pusat perbelanjaan berlantai 14 yang pertama dibangun di Indonesia
  • Gelora Bung Karno di Senayan : Kompleks olahraga raksasa yang bernilai 10 juta dolar ini didirikan tahun 1959 dengan bantuan dana dari Uni Soviet, untuk mewadahi Asian Games ke IV yang diselenggarakan bulan Agustus-September 1962. Stadion Olahraga utamanya mampu menampung lebih dari 100.000 penonton
  • Jalan bebas hambatan 6 jalur
  • Jakarta By-pass
  • Jembatan Semanggi
  • Monumen Nasional (Monas) : Tugu Setinggi 110 meter,yang dirancang oleh arsitek Soedarsono untuk melambangkan kelanjutan kebudayaan di Indonesia dari masa lalu., masa kini dan masa akan dating. Bentuk formalnya meminjam konfensi tugu patriotis dari Eropa, dan pada saat yang sama mengambil bentuk langgam lingga-yoni dari periode Hindu Jawa. Ukurannnya didasarkan pada angka-angka tanggal proklamasi kemerdekaan, 17/08/45. Bagian dasarnya mewadahi museum yang mendokumentasikan perjuangan revolusi rakyat Indonesia sepangjang sejarah. Dibangun pada agustus 1961 dan selesai pada 1978.
  • Taman Merdeka
  • Masjid Istiqlal : Masjid yang dirancang oleh F. Silaban ini dapat menampung sekitar 75.000 jemaah. Bangunan ini terbuat dari beton bertulang dan marmer yang diharapkan dapat bertahan 1000 tahun. Terdiri dari 5 tingkat , memiliki kubah berdiameter 45 meter, sebuah minaret setinggi 6666 cm yang melambangkan jumlah ayat Al-qur’an. Pembangunan dimulai pada Agustus 1961 dan diresmikan oleh Soeharto pada 22 Februari 1978.
  • Gedung Wisma Nusantara
  • Taman Impian Jaya Ancol : Proyek revitalisasi kawasan yang dibangun di daerah pantai Jakarta Utara dan dekat pelabuhan dengan luasan 585 Ha, Proyek ini dirancang sebagai pusat rekreasi untuk penduduk Jakarta dan sekitarnya, juga sebagai kota transit bagi pendatang dari luar negeri.
  • Gedung DPR& MPR : Terletak di areal seluas 60 Ha dengan areal terbangun seluas 80.00 m2, Dirancang oleh arsitek Soejudi untuk mengekspresikan aspirasi spiritual Indonesia modern.. Kompleks ini sebelumnya dipersiapkan oleh presiden Soekarno untuk lokasi CONEFO (Confrence of The New Emerging Force)
  • Sejumlah Patung Monumen : Yang sebagian besar berlanggam social-realis, ditempatkan diatas menara tinggi, menggambarkan buruh yang memberontak, petani yang memutus rantai, roh ibu yang baik hati. Contoh: Monumen Pembebasan Irian Barat di lapangan Banteng dan Patung Selamat Datang di Bundaran HI.
Beberapa Proyek yang dibangun diluar Jakarta (Yogya, Sanur) :
  • Hotel Ambarukmo
  • Hotel Bali Beach
Ciri khas proyek-proyek arsitektur Soekarno adalah kemajuan, modernitas, dan monumentalitas. Sebagian besar dari proyek-proyek ini dibangun dengan langgam “ International Style ”, untuk menandai kebangkitan suatu kekuatan progesif baru, yaitu Republik Indonesia. Peran dan fungsi politis arsitektur modern di Indonesia bagi Soekarno adalah untuk menanamkan kebanggaan berbangsa pada rakyatnya, untuk menampilkan citra positif negara Indonesia kepada Negara berkembang lainnya. Dan sebagai lambing perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialism.
Seorang arsitek yang memiliki hubungan dekat dengan Soekarno ketika itu ialah Friedrich Silaban yang lahir pada 16 Desember 1912 di desa Banondolok, Tapanuli, Sumatra Utar, dan meninggal pada 14 Mei 1984 di Jakarta. Memulai sebagai juru gambar (drafter) dan menjadi arsitek pada tahun 1931. Konsep desainnya sangat dipengaruhi oleh arsitek belanda J.H. Antonisse. Ia memenangka banyak sayembara arsitektur pada masa kolonial maupun pada masa kemerdekaan. Pada tahun 1950 , ia menerima pendidikan arsitektur selama satu tahun di Academie Bouwkunst di Belanda. Pada tahun 1962, Ia memperoleh penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Soekarno. Ia terlibat di dalam hampir semua proyek besar pada masa itu, baik sebagai penasihat maupun sebagai perancang. Desain arsitektur Silaban didasarkan pada : Fungsi, Kenyamanan, Efisiensi, dan Kesederhanaan. Ia berpendapat bahwa arsitek harus memperhatikan kebutuhan fungsional suatu bangunan dan faktor iklim tropis seperti temperature, kelembapan sirkulasi udara, dan radiasi matahari. Faktor-faktor determinan yang penting ini harus ditangani secara serius baik dalam perancangan tapak, pemilihan bentuk, sistem konstruksi dan bahan bangunan. Sikapnya terhadap desain terekspresikan dalam solusi arsitektur yang unik seperti ventilasi silang, tritisan atap yang lebar, dan selasar-selasar. Proyek besar yang ditanganinya antara lain BI di jln. Thamrin, Wisma Dirgantara di jln. Gatot Subroto, Gedung pola, dan masjid Istiqlal.

Sumber: Indonesian architecture now, Imelda Akmal







Kamis, 08 Desember 2011

Bosen Liat Tulisan, Liat Video Arsitektur Aja Dulu (Part 1)




Arsitektur Di Indonesia (1950an-1990): telaah historis singkat Oleh: Iwan Sudrajat (Part 1 Institusional Pendidikan)


“ Mendingan bacanya kalo punya waktu luang aja ya, karena biasanya hanya membaca sekedarnya saja. Biasanya lohh… ”(A.R.B)

Landasan Institusional disiplin ilmu arsitektur di Indonesia terbentuk pada tahun-tahun setelah kemerdekaan. Suatu telaah historis singkat tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama periode ini akan memberikan kepada kita gambaran umum tentang perkembangan awal pendidikan dan praktek arsitektur yang mengantarkan pada kondisi kearsitekturan masa kini di Indonesia.
Diketahui bahwa mata kuliah arsitektur di masa penjajahan Belanda selalu diajarkan sebagai bagian dari pendidikan insinyur sipil. Baru pada bulan oktober 1950, ketika sekolah arsitektur yang pertama didirikan di ITB, arsitektur memperoleh status sebagai disiplin ilmu yang mandiri. Program pendidikan yang diawali dengan 20 mahasiswa dan 3 pengajar berkebangsaan Belanda, pada dasarnya meniru sistem pendidikan sekolah dimana para pengajar tersebut berasal, yaitu dari Universitas Teknologi Delft di Belanda (Tempat dimana pak Yonav Partana ngambil S2 Spesialisasi Urbanism and Bulding Technology Nih) . Pendidikan ketika itu diarahkan pada penguasaan keahlian merancang bangunan, dengan focus pada parameter pokok yang sangat terbatas, yakni fungsi, iklim, konstruksi, dan bahan bangunan.
Akibat konflik di Irian Barat, Pada tahun 1995 semua pengajar berkebangsaan Belanda ditarik pulang ke negara asal mereka, kecuali V.R. van Romondt yang bersikeras untuk tinggal, dan secara low profile memimpin sekolah arsitektur sampai pada tahun 1962. Di bawah pimpinannya, pendidikan arsitektur secara bertahap diperkaya dengan menyertakan aspek estetika, budaya, dan sejarah ke dalam pertimbangan desain. V.R. van Romondt berambisis untuk menciptakan “Arsitektur Indonesia” yang baru , yang berakar pada prinsip-prinsip tradisional tetapi dikembangkan secara modern untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer. Dengan kata lain, “Arsitektur Indonesia” adalah penggenapan gagasan fungsionalisme, rasionalisme, dan kesederhanaan dari desain modern, namun sangat terinspirasi oleh prinsip-prinsip arsitektur tradisonal.
Pada tahun 1958, jumlah mahasiswa di sekolah arsitektur ITB sudah bertambah sampai 500 orang, dan telah dihasilkan 12 orang lulusan. Beberapa di antara para lulusan ini direkrut untuk posisi mengajar, sehingga proses Indonesianisasi dapat dimulai. Pada bulan September 1959, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) didirikan oleh para lulusan (Nah loh bisa nambah input pengetahuan tentang IAI kan ). Sejak tahun 1961, kepemimpinan arsitektur sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia, dengan Sujudi sebagai ketuanya yang pertama. Sujudi dan rekan-rekannya kemudian mendirikan sekolah arsitektur di perguruan tinggi lainnya

Pada tahun 1962: Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; Universitas Diponegoro, Semarang.
Pada tahun 1963: Universitas Hasanudin, Makasar
Pada tahun 1965: Universitas Indonesia, Depok; Universitas Teknologi 10 November, Surabaya; Universitas Udayana, Denpasar.

Sumber: Indonesian architecture now, Imelda Akmal




Vegetasi Dalam Arsitektur



Apa hubungan proyek Djarum Foundation dengan judul diatas? Mungkin ada, mungkin loh…Kenapa juga sebuah brand rokok yang telah kita kenal banget punya proyek pelestarian lingkungan di jalur pantura, Jawa tengah? Yang katanya upaya bakti kepada Negeri? Siapa yang perduli toh sepertinya semua itu tersirat seperti upaya penetralan yang dilakukan atas dampak buruk yang dihasilkan oleh produknya yaitu “rokok”. Apapun dalih yang diungkapkan seperti karena produksi rokoklah pendapatan daerah bisa terdongkrak, atau atas karena pruduksi rokoklah lapangan pekerjaan dapat dibuka secara banyak dan besar-besaran, lah dampak rokoknya gimana dong? Memproduksi racun untuk membunuh secara perlahan bangsa kita… tapi siapa yang perduli sih, toh ada banyak keuntungan yang didapatkan dari industry rokok tersebut ( Mungkin ada sih tapi jumlahnya minoritas gitu)

Ketimbang membicarakan hal di atas yang tidak mungkin bisa selesai hanya dengan wacana tulisan, diskusi atau apapun itu tanpa ada tindakan, mending fokus sama hal yang lain. Lalu apa yang jadi fokusnya dari tulisan ini ? Namanya juga blog Arsitektur kita fokus pada upaya positif yang dilakukan sama Djarum foundation ini di ranah vegetasi lingkungan aja deh. 
 
Tau gak apa itu pohon Trembesi? Kenapa mesti pohon Trembesi? Apa potensi yang dimiliki dari pohon ini? Baiklah kita cari tau… 

Sumber: http://didut.wordpress.com/2010/05/02/kehebatan-pohon-trembesi/

 Sumber: http://www.indolandscape2.netfirms.com/fototanaman/Pohonfoto

  Sumber:http://wawansome.blogspot.com/2011/01/trembesi-si-penyerap-co2.html

  Sumber:http://erwin4rch.wordpress.com/2008/10/10/mengintip-negeri-tetangga-singapura-part-1/

Trembesi (Albizia saman sinonimSamanea saman) disebut juga Pohon Hujan atau Ki Hujan merupakan tumbuhan pohon besar dengan ketinggian hingga 20 meter dan tajuknya yang sangat lebar. Pohon Trembesi (Ki Hujan) mempunyai jaringan akar yang luas sehingga kurang cocok ditanam di pekarangan karena bisa merusak bangunan dan jalan.
Diyakini dari satu batang Trembesi dewasa mampu menyerap 28,5 ton karbondioksida (CO2) pertahunnya. Bahkan di Istana Negara, terdapat 2 batang pohon Trembesi yang ditanam oleh presiden pertama RI, Ir. Soekarno yang masih terpelihara dengan baik hingga kini.
Pohon Trembesi (Albizia saman) disebut juga sebagai Pohon Hujan atau Ki Hujan lantaran air yang sering menetes dari tajuknya karena kemampuannya menyerap air tanah yang kuat. Di beberapa daerah di Indonesia tanaman pohon ini sering disebut sebagai Kayu Ambon (Melayu), Trembesi, Munggur, Punggur, Meh (Jawa), Ki Hujan (Sunda).
Dalam bahasa Inggris pohon ini mempunyai beberapa nama seperti, East Indian Walnut,Rain Tree, Saman Tree, Acacia Preta, dan False Powder Puff. Di beberapa negara Pohon Trembesi ini disebut Pukul Lima (Malaysia), Jamjuree (Thailand), Cay Mura (Vietnam),Vilaiti Siris (India), Bhagaya Mara (Kanada), Algarrobo (Kuba), Campano (Kolombia),Regenbaum (Jerman), Chorona (Portugis)
Trembesi pada mulanya diketahui tumbuh di savana Peru, Brasil, dan Meksiko, yang minim air. ”Kemampuan tumbuh di savana menunjukkan, pohon ini tidak memiliki evaporasi tinggi”
DR.Ir. Endes N Dahlan adalah salah satu dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberikan pembekalan penanaman trembesi, 13 Januari 2010 di Istana Negara. Endes meneliti daya serap emisi karbon dioksida atas 43 jenis tanaman pada 2008.
Hasil penelitian pada trembesi dengan diameter tajuk 10-15 meter menunjukkan, trembesi menyerap karbon dioksida 28,5 ton per tahun. Ini angka terbesar di antara 43 jenis tanaman yang diteliti, bahkan ditambah 26 jenis tanaman lain, daya serap karbon dioksida trembesi tetap terbesar. Meskipun demikian, Endes belum bisa menjelaskan 68 jenis pohon lainnya yang diteliti.
Dia mengaku, belum meriset secara rinci kapasitas evaporasi trembesi. Diketahui pula, trembesi memiliki sistem perakaran yang mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk mengikat nitrogen dari udara.
Kandungan 78 persen nitrogen di udara memungkinkan trembesi bisa hidup di lahan-lahan marjinal, juga lahan-lahan kritis, seperti bekas tambang, bahkan mampu bertahan pada keasaman tanah yang tinggi. ”Selain tahan kekeringan, juga tahan genangan,” kata Endes.
Pohon trembesi, bisa mencapai usia 600 tahun itu, berkanopi luas, bisa mencapai diameter 8 meter dengan ketinggian pohon berkisar 40 meter.

Eksistensi Pohon Trembesi juga sempat menuai pro dan kontra. “Trembesi termasuk jenis pohon dengan  evaporasi atau penguapan tinggi sehingga berpotensi mengeringkan sumber air,” kata Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Mochammad Na’im, Senin (22/2/2010) di Yogyakarta, seperti yang dikutip dari Kompas Online. Menurut Na’im, trembesi memiliki tajuk yang luas, sekaligus tebal. Kondisi ini membuat cahaya matahari sulit menembus. ”Tanaman di bawah naungan tajuknya tidak bisa tercukupi cahaya matahari sehingga tidak bisa tumbuh subur, bahkan mati. Jenis tanaman ini sebaiknya untuk perindang,” ujar Na’im.



(Sumber:http://daengbattala.com/pohon-trembesi-menebar-kesejukan-menuai-keteduhan/)

Minggu, 04 Desember 2011

Bosen Ber_Arsitektur ( Sedikit Pelepasan Penat Ke Pameran di GaleriSalihara)

Tema Pameran :Beastly

mungkin gue telah menemukan keasikan tersendiri dalam dunia seni selain arsitektur dan yang dapat gue kemukakan untuk sebuah pameran yang dibuka pada jam 5 sore tanggal 3 agustus 2011 ini ialah bagaimana ketika karya seni dari kumpulan 30 orang seniman dari 3 generasi berpadu menciptakan kreasi yang unsurnya perpaduan antara manusia di dalam hewan, hewan di dalam manusia. Sungguh apa yang diungkapkan kata-kata di atas masih terlalu simpel untuk sebuah ungkapan makna dalam keseluruhan karya ini tapi setidaknya apa yang telah disampaikan mereka dalam media yang beraneka ragam itu dapat memberi pemahaman baru mengenai hal-hal yang terjadi antara manusia dan hewan

















  



 



Selasa, 29 November 2011

Sketsa 99

Sebenarnya gue tau pentingnya sketsa dalam agar dapat memudahkan penuangan gagasan awal sebuah konsep... dan sketsa gue masih jauh dari layak untuk dapat dibilang baik ataupun bagus... tapi ada fase dimana sketsa juga bisa hadir dalam nuansa yang gak bagus-bagus amat tapi masih terlihat menarik. Semua pasti butuh apa yang namanya kesempurnaan dalam kemampuan sketsa. dan latihan akan membuatnya semakin sempurna 

Senin, 28 November 2011

Kritik Arsitektur

Tugas 1 ( Fotografi )

EGOSENTRIK MODERNISME DALAM KESERAGAMAN YANG DIPAKSAKAN

CURI STAR DALAM ARSITEKTUR

HAK VEGETASI VS HAK PEJALAN KAKI




Tugas 2 ( Tulisan)


SYMBOLIZM 
Yang pertama- tama saya coba cermati dalam tugas kritik arsitektur ini ialah bagaimana ketika fungsi sebuah gerbang lingkungan permukiman yang terdapat di jalan kebahagiaan raya Depok 2 Timur ditambahkan lagi fungsinya berupa identitas penujuk atas sebuah simbolisasi bangunan ibadah umat muslim (kubah masjid). Lalu seperti apa sebenarnya kebenaran dalam meletakkan sebuah simbolisasi atas bangunan dengan fungsi khusus tersebut…?

Dalam sebuah kekhasan areal hunian atau permukiman, sebuah gerbang biasanya memang jamak kita lihat guna menunjukan sebuah penanda keluar-masuknya sirkulasi baik kendaraan maupun pejalan kaki. Tak jarang kita temui pada area gerbang ini juga sebenarnya identitas yang tedapat di sebuah lingkungan permukiman dapat tersirat. Baik itu pemukiman bawah, menengah, maupun ke atas.

Lalu fungsi lain yang bisa dengan mudah kita rasakan ialah, dalam kondisi cuaca tertentu gerbang ini memiliki fungsi sebagai peneduh baik dikala terik matahari yang menyengat maupun dikala hujan, sebuah produk arsitektur yang berbasiskan fungsi tempat singgah sementara ( Shelter)

Disini coba kita amati dengan baik identitas yang muncul atas interfensi simbolisasi penunjuk bangunan ibadah (masjid) tersebut yang diletakkan dengan tanpa melihat dulu fungsi simbolisasi tersebut cocok atau tidak dalam hal penempatannya. Mungkin dari maksud yang dapat ditangkap. Kubah tersebut berfungsi menunjukkan bahwa ada kehadiran sebuah rumah ibadah dalam lingkungan permukiman tersebut. Sehingga akan memudahkan orang dalam mencarinya. Tidak hanya itu saja, seakan sebuah kubah tersebut belum cukup memenuhi fungsinya, masih ditambahkan lagi berupa papan hijau bertuliskan ayat alqur’an berwarna putih, mengingatkan saya ketika akan memasuki sebuah kawasan pemakaman umat islam (Kuburan)



Yang awalnya sebuah simbolisasi tersebut masih dapat dipahami fungsinya, namun ketika terjadi kelebihan dalam maksud yang ingin dituju tersebut, malah menambah ekspektasi yang berbeda lagi ketika kita melihat lebih detail atas intervensi desain tersebut.

Lalu dimana letak kebenaran dalam arsitektur tersebut bila sebuah desain cenderung ditampilkan secara berlebihan ???



Tugas 3 ( Sketsa)

 


























Minggu, 27 November 2011

Beberapa Metode Presentasi Arsitektur

Hahaha entar ya, gue kumpulin materinya dari arsitek-arsitek senior dulu

Ternyata Kuliah Arsitektur Itu... Lebih Enak Dijalani Tanpa Pengharapan, Bagaimana Bisa?...

Rasanya ngejalanin sesuatu tanpa pengharapan itu,enak. Berasa lebih ringan,mengalir, plong aja gitu. Lebih tepatnya metode ini membebaskan kita akan sebuah tekanan dalam prosesnya. Melepaskan rasa berharap akan sebuah kesenangan semata, yang kadang membuat batin terasa sedikit tertekan apabila rasa tersebut tidak terpenuhi. Saya merasa semakin banyak menerima pandangan dari beberapa arsitek senior tentang bagaimana jatung bangun dalam berprofesi sebagai arsitek, lalu kenyataan bahwa ini profesi yang cenderung belum diakui untuk bermasayarakat dalam kalangan tertentu, susah untuk mendapatkan proyek... ah berfokus pada hal-hal tersebut bahkan dapat menyebabkan rasa kecewa yang dalam apabila kelak profesi ini menjadi susah untuk dijalani, karna begitu jauh dari ekspektasi kita selama menimba ilmu di jenjang pendidikan akademis arsitektur.

Dalam prakteknya, saya malah merasa bahwa ini cara terbaik guna menjalani masa sulit tidur demi sebuah konsep dalam perancangan (contoh kecilnya lohh). Sepertinya sulit untuk berbuat seperti itu, dan kalo anda tidak percaya, saya tidak perduli hahaha...     

Katanya Arsitek Itu Profesi Jangka Panjang Lalu, Bagaimana Korelasinya Antara ''Architecture, Cigarette, Drink, Sport"

Bagaimana korelasi..???...tunggu postingan selanjutnya ya

Tebak-Tebakan Dalam Arsitektur

tebak tebakan ini sebenarnya adalah upaya menghilangkan batas atau simbol pengarah  yang sering kita lihat di setiap tempat seperti pakiran (contoh kecilnya nih) untuk mengarahkan.Bagaimana kulitas perencanaan itu berhasil atau tidak kadang juga dapat ditentukan dari seberapa baik kita selaku perancang dapat mengarahkan tebak-tebakan dari penggunanya hingga mencapai kondisi 75 % tepat atau lebih... gambarannya gini, ketika orang hendak parkir, kembali lagi, lalu keluar bagaimana ia dapat menebak arah dengan acuan kepada desain kita. entah itu susunan ruang (area) maupun bentuk. nah ini berdasarkan pengalaman meruang yang sering saya temui.loh. Lebih seringnya kondisi parkiran tersebut menambahkan simbol sebagai arahnya sebagai unsur yang tidak dapat dipisahkan, lebih tepatnya tidak akan berhasil bila tidak dibantu oleh simbol penunjuk arah. So.. tebak tebakkan arsitektur sepertinya punya sisi lain lagi yang mesti diupayaakn untuk mampu mengarahkan para penggunanya, ini kalo gue pikir guna mengukur sejauh mana sensifitas si perancangnya dalam berarsitektur....

Kamis, 24 November 2011

Link Seputar Arsitektur di Indonesia

- http://jongarsitek.com/

JongArsitek! publication* adalah media bulletin kegiatan arsitek yang tujuannya sebagai media dokumentasi kegiatan karya dan wadah berkarya kita-kita orang arsitek yang dibuat oleh kita dikerjakan oleh kita untuk siapa saja

- http://www.aboday.com/

Firma Arsitektur

- http://labo.are.ma/labo.php

Firma Arsitektur

- http://www.urbane.co.id/

Firma Arsitektur

http://www.kind.co.id/main/

Firma Arsitektur

- http://djuhara.com/home.html

Firma Arsitektur

- http://budipradono.com/

Firma Arsitektur

- http://andramatin.co.id/

Firma Arsitektur

http://dotworkshopstory.com/

Firma Arsitektur

- http://www.heptadesain.blogspot.com/

Firma Arsitektur

- http://www.renanda.com/

Firma Arsitektur

- http://www.facebook.com/KomunitasCintaBambu

Comunity

Firma Arsitektur

- http://www.kartonoarchitects.com

Firma Arsitektur

- subvisonary.com

Firma Arsitektur

- studioairputih.com

Firma Arsitektur

- pdw-architects.com

Firma Arsitektur

-paidesign.com

Firma Arsitektur

-Zadl.net

Firma Arsitektur

-kartonoarchitects.com

Firma Arsitektur

-jxtpdesign.com

Firma Arsitektur

-dform.in

Firma Arsitektur

-dezanstudio.com

Firma Arsitektur

-atelierriri.com

Firma Arsitektur

-airmasasri.com







Sarjana Cuci Gudang (Wat De Pak)

Sial adalah ketika semua usaha yang terjadi selama 4 tahunan di institusi pendidikan hanya mengantarkan kita pada sebuah gelar sarjana cuci gudang. Konon yang seperti ini merupakan ketidaksiapan si peserta didik dalam menyandang gelar sarjana. hey kawan di indonesia ada berapa pulau?ditiap pulau ada berapa kota?di tiap kota ada berapa kecamatan?di tiap kecamatan ada berapa kelurahan?tiap keluarahan ada berapa Universitas? dalam setahun mereka akan meluluskan berapa sarjana muda yang kelak hanya akan mencari sebuah pekerjaan?... Sori jadi selama ini jenjang pendidikan tertinggi atau bisa dibilang sebuah universitas atau sejenisnya itu hanya merupakan tempat mengolah individu dengan kualitas pekerja? (tentu tidak semua juga dapat disamaratakan) hanya saja jika dikembalikan kepada judul di atas, sebenarnya lulus kuliah dan mendapatkan sebuah gelar lebih tepatnya didepan kita ada sebuah batu sandungan bukan batu lompatan... percayalah. Apalagi mahasiswa yang kuliah di jurusan arsitektur. Konon ini adalah profesi jangka panjang, profesi yang susah kaya, susah miskin(99untukarsitek), profesi yang hanya melayani beberapa proyek dalam satu tahun. Tidak seperti profesi dokter yang tiap hari kedatangan pasien, tidak seperti capster yang tiap hari ada yang memotong rambut, tidak seperti..... banyak lah contohnya.... tidak setiap hari arsitek akan di datangi klien guna mendisain sebuah bangunan atau apapun itu. Sialnya gue lagi dalam menjalani masa perkuliahan di jurusan arsitektur dan hanya tinggal menjalani beberapa semester lagi untuk menuju tugas akhir. Cap sarjana cuci gudang so pasti akan semakin terbayang dalam masa-masa sulit itu. rasanya ini batu sandungan semakin besar berada di jalur ini. Semoga saja arsitektur, tidak hanya ini... arsitektur itu adalah... gerak dan tindakan guna mendapat hasil positif dan negatif lalu direspons kembali guna mengevaluasinya agar menjadi terampil di bidangnya. intinya...ciptakan arsitekturmu sendiri :)

Rabu, 23 November 2011

Mata Kuliah Studio Perancangan Arsitektur Tulang punggung Perancangan ( Hey Jangan Nugas Di Kampus Mulu )

Studio Perancangan Arsitektur bisa disebut sebagai SPA, Stupa... itu tulang punggung perancangan yang harus berkonsolodasi dengan mata kuliah Struktur Konstruksi. Lebih baik di sebut sebagai 2 sejoli yang mesti dikuasai secara baik... setelah merasa cukup mengerti akan konsepsinya... sebaiknya tinggalkan saja yang namanya tugas berbobot nilai tersebut... Diluar sana sangat banyak sayembara yang membutuhkan pengujian sebuah gagasan akan sebuah perancangan yang pasti bobotnya bukan sekadar nilai yang...yah gak ada pentingnya ngeributin nilai... gak terpakai dijamin. di kompetisi tersebut bila gagasan kita dapat diterima karena dianggap menarik dan unik, pasti akan terjadi proses diskusi yang akan membuat transfer ilmu dari pihak penguji atau juri yang berpotensi menambah pemahaman kita di bidang arsitektur...soooo...anak arsitektur jangan nugas mulu dikampus woy....

Cara Saya Menikmati Arsitektur

- Lihat
- Raba (materialnya lohhhh)
- Rasakan (pengalaman ruang)

Ini caraku, caramu???
#sayup"terdengar kikikan wanita...





Selasa, 22 November 2011

Cara Paling Penting Untuk Diakui Sebagai Arsitek yang Punya Idealisme

SOMBONG..... gw eja ya
S_0_M_3_0_N_9..... ini mah alay kaleee

iyap..yang bener ejaannya  S_O_M_B_O_N_G
dosen paporit (kyk obat mencret yak?? ) gw berkata itu...dan gw menyakininya sebagai input positif yang bisa berdampak negatif bila dibaca dipahami, diresapi oleh orang-orang yang otaknya tidak seimbang...sory yang baca...apakah anda calon arsitek, ato arsitek??? bisa sombong gak???

Hey ini (Jakarta) adalah BIG KAMPUNG

gak percaya ya?ini adalah sedikit ekspektasi yang muncul dari pandangan saya atas kota jakarta, yah kota 'bencong soak' lah kalo kata Ruswandi Taher..kota yang belum siap-siap amat menjadi kota, pemimpin yang belum siap-siap amat memimpin kota bencong (ambigu)mau jadi kota apa jadi kumpulan kampung, sekarang malah muncul wacana pemindahan ibukota ke daerah yang katanya paru-paru dunia(palangkaraya)... mental pemimpin aja belum lurus dalam menggiring pembangunan jakarta,mau membangun kota orang lain..aisshhh #kode. Ini sih lebih mirip tebak-tebak buah manggis apa yang akan terjadi di kawasan hutan disana dengan pembangunan yang akan terjadi. Kalo kata Ruswandi Taher lagi nih "kalo tulang patah, lurusin dulu lah tulangnya". Lalu kalo ingin membangun kota ke arah yang lebih baik kira-kira mental siapa yang dilurusin tuh???

Berdiskusi Dengan Tuhan

Apakah otak ini berada dalam posisi yang benar ketika menuliskan judul di atas??? Benar lah, gue sadar 100% lo emang harus berdiskusi dengan sang pencipta. Lalu bagaimana proses diskusi bisa berjalan dua arah sedangkan kita sebagai makhluk yang nyata, lalu tuhan adalah Djat yang tak terlihat. Dimana letak diskusinya?...

Tuhan bisa kita rasakan kuasanya hanya dengan melihat atas apa yang diciptakannya. Dia adalah Masterplanner Alam semesta yang maha luas ini. Mari berdiskusi dengan apa yang telah diciptakannya... Karena ini adalah blog arsitektur, maka berdiskusilah dengan alam ketika hendak meletakkan sebuah rancangan atas apa yang telah kita anggap baik untuk proses berkegiatan didalamnya. Ketika kita telah mengabaikan proses berdiskusi dengan alam, Secara tidak langung anda tidak melibatkan tuhan sebagai Masterplanner kehidupan ini...

Dunia Akhirat Arsitektur Dalam Institusi Pendidikan

Baru saja menginput dengan sengaja hal negatif untuk direspon secara negatif oleh otak ini.Oleh karena ulah dosen Studio Perancangan Arsitektur 6 kali ini. Dalam masa ingin meninggalkan semua atribut fomalitas institusi pendidikan (Tugas maksudnya) keribetan DP kali ini benar-benar mengganggu untuk berkompetisi di luar kampus. Tugas bagi gue kumpul, bisa lanjut uts, nilai keluar, kalo dapet A bagus... Saat ini dapet B atau juga C I don't Care! Masi banyak yang bisa dilakukan diluar sana sebatas meribetan KONSEP selama lebih dari 3 Minggu. Sori hidup adalah bicara tentang kebahagian dengan terapan konsep kesimbangan ( yin yang lah buat yang mengerti kebudayaan China) Proses diskusi menjadi tidak lagi menyenangkan, yang ada hanya menjatuhkan... tidak selamanya apa yang anda katakan berada dalam keseimbangan yang baik. SPA? I DON'T CARE...TUGAS?APA ITU TUGAS...

Realita Kerjasama Tim dalam Sayembara Instalasi Publik...

Dalam Mengemukakan Sedikit Masalah Di Ruang Publik Lalu Mengintervensinya Menjadi Desain Yang Mampu Menjawab Masalah, Berbuntut 1 Bulan Waktu Kosong Dengan Hanya Menyisakan 8 Hari Kerja Rodi... Ide Terbaik Muncul Biasanya Disaat Kritis Masa Pengumpulan... Amati Prosesnya Gagasan Perancangannya... Semoga Bisa Membawa Tim Ini Kedalam Proses Diskusi Yang Cerdas OrdosstudiO (Arief) Kolaborator ( Adissa, Ratih )

Lajut menanggapi bagaimana proses bekerja sama dalam sebuah tim yang benar-benar baru ini. Setelah saya amati proses yang terjadi, jauh lebih membawa saya untuk dalam kondisi yang sangat nyaman terlebih dahulu untuk kemudian dapat melaksanakan sebuah kerjasama yang fokus dalam bekerja. Contohnya tidak memberi batasan kapan kita punya tenggat waktu untuk berdiskusi kemudian bekerja. Ini sebenarnya karena saya lebih menekankan bahwa kerjasama ini tidak boleh dalam bentuk paksaan terutama masalah waktu. setiap orang punya waktu-waktu yang jauh lebih punya prioritas, ataupun konsekuensi salah satu dari kami ada yang menangani proyek juga sehingga kecenderungan fokus menjadi buyar. Negatifnya dari metode ini saya malah terlihat tidak mampu memimpin diri sendiri dalam menetukan target. Yah kadang butuh sikap yang berbeda dalam membawa sebuah tim untuk menentukan goalnya dalam sebuah kompetisi desain. Kerjasama ini jauh dari kata ideal, karna dari kompetisi sebelumnya saya merasakan bahwa proses diskusi dengan mengerjakan rancangan secara bersama- sama jauh lebih mampu memberi hasil akhir yang jauh lebih baik ketimbang bekerja sendiri- sendiri lalu kemudian berkumpul dan berdiskusi. Batasan kebutuhan untuk duduk bersama inilah yang hrus dapat dirobohkan, karena sebenarnya dapat menjadi parameter  sejauh mana kita perduli terhadap apa yang kita kerjakan. mungkin guna mencapai ikatan emosi dalam penggodokan sebuah kasus yang akan dipecahkan khususnya..

Dan pengumuman pun masih lama sekitar tanggal 10 desember. Hasil kerja duduk bersama yang hanya semalam suntuk pada tanggal 29 november itu semoga bisa menambah pengalaman kami dalam bekerjasama khususnya mencoba-coba lagi metode yang paling sesuai dalam sebuah teamwork....

Arsitektur gak pernah se-asik ini :)

Jumat, 04 November 2011

Arsitek Tapi Tidak Sekolah Arsitek


Banyak Yang Ngebacot Tentang Green Architecture, Bosen Baca Mending Nonton


Arsitektur Nusantara...Nasibmu Kini Dan Nanti




Iklan Yang Punya Muatan Arsiteknya






















Di Samarinda Ada Perancangan Yang Menerima Aga Khan Award of Architecture,1989, Mari Kita Telusuri

Citra Niaga Urban Development

ArchNet Site ID AS00962
Location Samarinda, Indonesia
Architect/Planner Antonio Ismael
Architect/Planner PT Triaco and PT Grivantara Architects
Client Municipal Goverment, Samarinda
Date 1986
Century 20th
Decade 1980s
Building Types commercial, residential, urban design and development
Building Usage market, housing development, urban upgrading
Project ID 1103
Keywords Aga Khan Award for Architecture Winner; indigenous/vernacular/traditional

Kompleks Citra Niaga Samarinda dalam berbagai literatur arsitektur dunia cukup dikenal. Bahkan pada era akhir 1980-an dan awal 1990-an, Samarinda identik dengan Citra Niaga dimata para pelancong yang ingin ke Samarinda. Karena referensi mengenai kota Samarinda pada waktu itu kalah terkenal dibanding dengan Balikpapan maupun Bontang. Salah satu ikon menarik di Kaltim waktu itu adalah Citra Niaga yang berada di kota Samarinda

Pada awal 1990-an wajah Citra Niaga masih mendekati aslinya, bahkan walikota waktu itu melakukan gerakan men-"Citra Niaga"-kan lingkungan sekitar. Sehingga kawasan sekitarnya mulai dari Yos Sudarso sampai deretan Panglima Batur diharuskan berwajah "Citra Niaga". Ruko-ruko dirubah wajahnya diberi topeng tampilang mirip arsitektur Citra Niaga.

Keperluan ekonomi akhirnya menggerus citra dari Citra Niaga. Kompleks dua lantai di sisi Timur dibeli oleh pengusaha penjual pakaian. Seluruh lorong dua lantai yang indah dengan prasasti peresmian Citra Niaga dirubah menjadi sebuah toko pakaian. Semuanya hilang di area timur sehingga lorong-lorong berubah menjadi bagian dalam sebuah toko pakaian. Prasasti digeser dan ditelantarkan di kaki lima / trotoar.

Sejak itu wajah Citra Niaga Samarinda berubah seiring dengan renovasi Mal Mesra Indah yang mulai menyedot pengunjung. Dibangunnya Mal Lembuswana. Berdirinya Plaza Samarinda yang kemudian gagal dan menjadi tempat kumuh melengkapi Pinang Babaris yang sudah kumuh sebelumnya. Citra Niaga akhirnya tidak diminati pengunjung dan mulai dilupakan oleh warga Samarinda sendiri. Sementara itu literatur dunia masih mencatat Citra Niaga sebagai karya arsitektur yang dilupakan oleh pemiliknya sendiri. Warga Samarinda.

Pada suatu kegiatan Ikatan Arsitek Indonesia yang diadakan di Samarinda pada tahun 2006 gagal mendatangkan arsitek Citra Niaga. Upaya untuk mengembalikan Citra Niaga menjelang PON XVII 2008 patut dihargai. Namun Citra Niaga tidak akan pernah kembali seperti semula.

Sumber:


http://www.akdn.org/architecture/project.asp?id=1103

http://www.e-samarinda.com/forum/index.php?showtopic=2095

http://archnet.org/library/sites/one-site.jsp?site_id=985

Kamis, 03 November 2011

Sayembara Housing Solution For a Better Living at Pademangan Barat, Trisakti


  Poster

  
   TOR

  
   TOR

  
    TOR

 
   Presentasi Analisis Kawasan Oleh Panitia

  
   Presentasi Analisis Kawasan Oleh Panitia

 
    Presentasi Analisis Kawasan Oleh Panitia

  
    Presentasi Analisis Kawasan Oleh Panitia

  
    Presentasi Analisis Kawasan Oleh Panitia

  
    Presentasi Analisis Kawasan Oleh Panitia

  
    Presentasi Analisis Kawasan Oleh Panitia

  
   Realita MCK Umum Di Kawasan Padat (Foto Kondisi Eksisting Oleh Panitia)

Tampak Samping Kana Rumah (Foto Kondisi Eksisting Oleh Panitia)

  
 Pos Ronda dan Tempat Berjualan (Foto Kondisi Eksisting Oleh Panitia)

 Mecuci Didepan Rumah (Foto Kondisi Eksisting Oleh Panitia)

 Hobi Memelihara Burung (Foto Kondisi Eksisting Oleh Panitia)

  Ruang Keluarga Komunal (Foto Kondisi Eksisting Oleh Panitia)

 Sistem Pengairan Sederhana (Foto Kondisi Eksisting Oleh Panitia)

 Saluran Yang Mampet (Foto Kondisi Eksisting Oleh Panitia)



Tim Desain 
Arief Riansyah Bulwafa, Adie Pramana, Harrys Mursid Wibowo

Dalam proses mengajukan gagasan untuk kasus perancangan rumah pak charlie, kami melihat secara makro dulu, seperti apa masalah yang terjadi dalam perukiman di kawasan urban di pademangan barat ini. Dan.. inilah wujud realita cara bermukim di kawasan padat. Rumah dengan luasan 30 m2, yang dihuni oleh 7 orang, area sirkulasi jalan didepan rumah digambarkan sebagai zona semi publik, dimana aktifitas keluarga pun ada di area ini, seperti berkumpul, mencuci, berjualan...

Pada perancangannya, kami mencoba memberikan batasan yang mengenai zona publik maupun privat. Dimana kegiatan cuci mencuci dialihkan ke area dalam, agar tidak mengambil area sirkulasi dan agar mengurangi beban saluran yang mampet. Kegiatan berjualan juga dialihkan kebagian dalam, agar memudahkan dalam pengawasannya dan tidak mengganggu area sirkulasi jalan gang yang memang hanya berukuran +- 2 Meter

Vegetasi Anggur dicoba dipertahankan dengan sedikit memindahkan posisinya ke lantai dua, dikarenakan jalaran tanaman ini pada posisi awal menjadi akses bagi sirkulasi binatang pengerat(tikus) 

Dalam menyikapi penambahan lantai (hingga 2 lantai) di masa yang akan datang, struktur awal perlu ditambah pembesaran dimensinya untuk menjaga agar kekuatan bangunan tetap terjaga. Sedangkan dalam pemilihan matrial, disiasati dengan membeli sebagian matrail bekas dan baru yang dalam radius terdekat ke lokasi guna mengurangi pengeluaran transportasi

Sirkulasi udara dan pencahayaan yang kurang baik disiasati dengan penambahan area bukaan seperti jendela dan ventilasi yang desainnya telah dimodifikasi kenbali agar apa yang diinginkan sesuai dengan gagasan awal.


Panel 1

 Prespektif

 
  Prespektif


 Prespektif

 Prespektif

T.Atas

T.Depan

T.Belakang

T.Samping Kanan









Interior

Detail Arsitektur

Detail Arsitektur

Detail Arsitektur

Detail Arsitektur